Tampilkan postingan dengan label Must Read. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Must Read. Tampilkan semua postingan
Jadilah Muslim Kesatria Jangan Pecundang

Jadilah Muslim Kesatria Jangan Pecundang

10/25/2016 Add Comment
 



Secara umum tentunya sebagai seorang manusia lebih suka menyalahkan orang lain, ketimbang memeriksa diri kita sendiri. Ya, percaya atau tidak. Lihat misalnya di jalanan kita, tempat orang-orang berlalu-lintas dari satu tempat ke tempat yang lain. Masyarakat kita ini, yaitu masyarakat Indonesia, sangat unik sekali suasana jalanannya. Banyak orang yang terlihat buru-buru dalam berkendara. Banyak yang suka menyerobot, dan jarang yang mau mengalah. Masing-masing merasa paling berhak dengan jalannya. Dan konon katanya, perilaku masyarakat itu terlihat dari perilakunya di jalanannya.

Dan percaya atau tidak, ketika membaca paragraf sebelum inipun banyak diantara kita yang membayangkan bahwa kesalahan itu memang ada, pada orang lain. Jarang diantara kita yang merasa bersalah, atau bahkan malu dengan perilakunya sendiri.

Jalanan kita adalah tempat yang menyeramkan, karena perilaku-perilaku ini. Para pengendara motor merasa tidak nyaman karena keberadaan mobil, bus atau becak sekalipun, karena terganggu lajunya tersebab mereka itu, katanya. Pengendara mobil pun demikian, sering merasa was-was dengan motor, sepeda dan lainnya karena seringkali memotong lajunya. Dan lain sebagainya. Mungkin perlu juga kita sebutkan banyak terjadi kecekalaan lalu lintas yang menyebabkan saling bertengkar (bukannya saling menolong), karena masing-masing merasa benar sendiri. Masing-masing merasa kesalahan bukan pada dirinya.

Mari kita perhatikan mengenai persoalan ini : menyalahkan orang lain. Perilaku ini perlu kita ubah. Karena ia tidak menyelesaikan persoalan. Mungkin bisa jadi perasaan kita merasa lebih longgar karena persoalan telah dilimpahkan kepada orang lain. Tetapi bukankah, persoalan itu sebenarnya belum selesai?

Menyalahkan, membuat kita enggan meminta maaf, meskipun sebenarnya kitalah yang bersalah. Menyalahkan, membuat kita sulit mencapai perbaikan dan kemajuan, karena persoalan tidak terselesaikan. Dan orang tidak benar-benar memperhatikan cara penyelesaian masalah itu. Namun hanya ingin “cuci tangan” dari kesalahan.

Kita bisa menjumpai fenomena pendidikan pada anak dengan pelajaran “menyalahkan”. Yaitu misalnya sang bunda berkata kepada putranya ketika ia jatuh dan menangis karena tersandung batu : “Aduh nak, tenang ya nak, tidak usah menangis. Ini batunya yang nakal bunda pukul. Nih.. nih…”. Padahal apa salah batu? Anak diajarkan untuk menyalahkan orang lain. Maka tidak perlu heran sang anak akan belajar hal yang sama. Ketika nilainya buruk dia akan mengatakan “Bapak/Ibu guru ngajarnya tidak enak Bunda.” atau kalimat semisalnya.

Dalam kehidupan Ayah Bunda pun demikian, jika mental menyalahkan sudah menjadi kebiasaan, maka sering terjadi Ayah menyalahkan Bunda ketika rumah berantakan, sementara itu Ayah merasa dirinya sudah bekerja keras mencari nafkah. Padahal bisa jadi karena Ayah yang kurang membantu. Bukankah Rasulullah mencontohkan untuk membantu urusan rumah tangga, misalnya.

Dalam Al-Qur’an kita pun menjumpai peristiwa saling menyalahkan :

وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?” (QS 40:47)

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ الَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ

“Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba- (Nya)”. (QS 40:48 )

Penghuni neraka saling berbantah-bantahan. Orang-orang yang dulu sekedar menjadi pengikut menyalahkan orang-orang yang dulu mengajaknya melakukan pembangkangan. Dan tentu saja orang yang mengajak itu tidak mau disalahkan. Dan keduanya adalah sama.

Bagaimana dengan kita? Jangan-jangan sama saja antara kita dan orang yang kita salahkan. Atau bisa jadi malah sebenarnya kita yang salah, namun menyerahkan kepada orang lain. Dan kemungkinan ketiga, jika ternyata kita tidak salah dan orang lain yang salah, lalu kita menyalahkan orang itu, selesaikah permasalahan?
Dalam jejak kisah para sahabat kita menjumpai teladan yang indah. Sebagaimana dikisahkan [1] Salman Al-Farisi mengajukan diri menjadi jaminan bagi seorang pemuda yang menjadi pelaku pembunuhan terhadap ayah dari dua kakak beradik. Si pemuda itu karena kemarahan sesaat membunuh ayah dari kedua kakak beradik disebabkan karena sang ayah membunuh kuda tunggangan pemuda itu, karena kuda itu memakan tanaman dikebun ayah dan keluarga kakak beradik itu. Maka kedua kakak beradik itu meminta kepada ‘Amirul Mu’minin Umar ibn Khaththab untuk menjatuhkan hukuman qishosh. Nyawa dibayar dengan nyawa.
Namun karena si pemuda ingin menyelesaikan urusan amanah dikampungnya, maka si pemuda meminta tenggat waktu 3 hari. Akan tetapi tidak ada penjamin waktu itu. Si pemuda tidak memiliki kenalan seorang pun untuk menjamin dirinya, untuk menggantikan dirinya, jikalau dia tidak datang pada hari ketiga. Dan hampir saja Salman Al-Farisi benar-benar menjadi tebusan, untuk menggantikan si pemuda itu.

Salman Al-Farisi kala itu ditanya oleh Umar ibn Khaththab, mengapa ia mau menjamin si pemuda itu. Salman pun mengatakan : “Sungguh jangan sampai orang-orang berbicara, bahwa tidak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa, tidak ada lagi rasa saling percaya di antara orang-orang Muslim.”

Dan akhirnya kedua kakak beradik itu pun memutuskan untuk memamaafkannya. Saat ditanya kenapa keduanya memaafkan pemuda itu, kakak beradik itu berkata : “Agar jangan sampai ada yang mengatakan, bahwa dikalangan kaum Muslimin tidak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati dan kasih sayang.”
Teladan berharga ini perlu kita contoh. Salman Al-Farisi bersedia untuk “pasang badan”, dengan keteguhannya. Hingga akhirnya kisah ini berakhir sangat indah.

Jikalau banyak orang yang lebih memilih untuk membantu orang lain, ketimbang menyalahkan dan melepaskan diri dari kesalahan, tentu hal ini lebih baik. Persoalan-persoalan akan terselesaikan. Izzah kaum muslimin pun akan naik, dan orang-orang akan memandang mulianya akhlak perilaku muslimin.
Akan tetapi, kita ini lebih suka menyalahkan orang lain, dan lebih suka berlepas diri dari masalah dan tidak ingin membantu orang lain.


Artikel : http://belajarislam.com



Adab Murid Terhadap Guru

Adab Murid Terhadap Guru

10/25/2016 Add Comment
 

Oleh: Kazuhana El Ratna Mida (Ratna Hana Matsura)

Sekarang ini, moral para murid sedikit banyak telah mengalami kemerosotan. Para murid cenderung melupakan sopan satun teradap guru yang pada dasarnya orang tua yang harus dihormati. Boleh jika menganggap guru sebagai teman, namun sopan santun juga harus tetap dijaga.
Apakah sopan jika seorang murid berbicara keras kepada gurunya, menyela pembicaraan guru dan lain sebagainya. Sungguh hal itu sangat tidak beradab.

Ada baiknya murid diberi pelajaran adab terhadap guru. Agar moral yang sekarang ini telah terkikis bisa diperbaiki. Beberapa kitab yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui adab murid terhadap guru adalah kitab Ta’lim Muta’alim karya Sheikh Az-Zarnuji.
 
Dalam kitab beliau  Ta’lim Muta’alim diterangkan adab murid terhadap guru adalah :
a. Seorang murid tidak berjalan di depan gurunya
b. Tidak duduk di tempat gurunya
c. Tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izin guru
d. Tidak berbicara di hadapan guru
e. Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek atau bosan
f. Harus menjaga waktu, jangan mengetuk pintunya, tapi menunggu sampai guru keluar
g. Seorang murid harus kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentanangan dengan agama
h. Termasuk menghormati guru adalah juga dengan menghormati putra-putra guru, dan sanak kerabat guru
i. Jangan menyakiti hati seorang guru karena ilmu yang dipelajarinya akan tidak berkah

Menurut Syeikh Ahmad Nawawi, adab murid terhadap guru antara lain :
a. Murid harus taat kepada guru terhadap apa yang diperintahkan didalam perkara yang halal.
b. Murid harus menghormati guru
c. Mengucapkan salam ketika bertemu dengan guru, karena perilaku itu bisa membuat guru senang
d. Ketika murid bertemu guru di tepi jalan, hendaklah murid menghormati guru dengan berdiri dan berhenti
e. Murid hendaknya menyiapkan tempat duduk guru sebelum guru datang
f. Ketika duduk di hadapan guru harus sopan seperti ketika sedang sholat yaitu dengan menundukkan kepala
g. Murid harus memperhatikan penjelasan guru
h. Murid jangan bertanya ketika guru sedang lelah
i. Ketika duduk dalam suatu majelis pelajaran, murid hendaklah tidak menolah-noleh ke belakang
j. Murid jangan bertanya kepada guru tentang ilmu yang bukan di bidangnya atau bukan ahlinya
k. Murid harus memperhatikan penjelasan guru dan mencatatnya untuk mengikat ilmu agar tidak mudah hilang
l. Murid harus berprasangka baik terhadap guru
Semua ini penting diketahui murid, karena jika seorang murid menghormati guru, maka ilmu yang diperoleh bisa manfaat.

Seorang penyair berkata: “Sesungguhnya guru dan dokter keduanya tidak akan menasihati kecuali bila dimuliakan. Maka rasakan penyakitmu jika tidak menuruti dokter, dan terimalah kebodohanmu bila kamu membangkang pada guru.”

Jadi sangat jelas bahwa menghormati guru itu harus ditanamkan sejak dini kepada murid, agar murid mengetahui adab terhadap guru, sehingga dalam menuntut ilmu para murid diberi kemudahan untuk memahami berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada.
Srobyong, 7 Februari 2015

Sumber:
[1] Adab Murid Terhadap GuruSyeikh Az-Zarnuji, Ta’lim Muta’alim, terj. Abdul Kadir Aljufri, (Surabaya :Mutiara Ilmu, 2009).
[2] Syeikh Ahmad Nawawi, Jawahirul Adab, terj. Mas’ud Ibnu ‘Abdi Ar-Rahman, (Semarang : Toha Putra1970).

Untuk Para Muslimah, Tak Cukup Hanya Berjilbab!

Untuk Para Muslimah, Tak Cukup Hanya Berjilbab!

10/25/2016 Add Comment
 

Jilbab di masa kini menjadi perbincangan di berbagai media, forum diskusi maupun lingkup masyarakat. Pernahkah terbesit oleh para muslimah, bahwa dirinya akan mendapatkan serangan-serangan, gangguan-gangguan ataupun hinaan di sekitar lingkungan kita? Ataukah selama ini para muslimah merasakan situasi yang aman-aman saja.

Muslimah yang mengenakan jilbab syar’i bahkan bercadar sekalipun rentan menjadi target tindak kejahatan dari dalam jiwa maupun dari lingkungan sekitar. Meskipun dalam sebuah ayat telah dijelaskan mengenai perintah menggunakan jilbab.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab:59)

Maka seorang muslimah dituntut untuk membekali diri dengan kemampuan-kemampuan pengetahuan Islam maupun ilmu adab dalam berbusana syar’i untuk melawan segala ancaman bahaya yang akan menimpanya. Karena bagaimanapun juga wanita –khususnya muslimah- lebih mudah untuk dijadikan sasaran oleh penentang Islam.

Bekal yang harus dikantongi seorang muslimah tidak cukup dengan melawan tindak kriminalitas yang mendunia, namun bekal yang sangat penting adalah aqidah yang lurus dan kuat untuk membentengi diri dari segala rayuan manis, propaganda, emansipasi wanita dan keadilan gender yang dikemas dan disajikan dengan label-label islami nan canggih –globalisasi dan modernisasi- yang telah memperdaya sebagian kaum muslimah.

Tahapan mereka dalam menyusun strategi untuk melemahkan semangat berjilbab syar’i sangat jelas, antara lain:
  1. Mereka menyandingkan gaya hidup materialis barat kepada para muslimah, mengenakan jilbab yang seharusnya menutup aurat mereka namun sebaliknya mengumbar aurat yang seharusnya ditutupi, termasuk fenomena jilbab gaul.
  2. Memberikan iming-iming kebebasan dari tekanan-tekenan dan ketatnya aturan Islam, para wanita berjilbab mengira bahwasanya telah mengenakan jilbab-jilbab gaul sudah membentengi dirinya dari lingkungan yang tidak baik.
  3. Menanamkan keraguan atas nilai-nilai Islam sembari menanamkan ideologi materealisme, hedonisme, sekulerisme dan westernisasi sehingga sangat mudah para muslimah dijauhkan dari Islam.
Glastoff, seorang ekstrimis Inggris berkata, “Timur tidak akan pernah mempunyai peradaban yang rusak (tidak bermoral), kecuali wanita-wanitanya melepas jilbab; Al-Quran yang merupakan pedoman hidup juga dijauhkan; minuman keras; narkotika dan perbuata-perbuatan maksiat serta kemungkaran-kemungkaran yang jelas, sehingga lenyaplah nilai Islam yang ada diri mereka”.

Di sinilah arti penting bekal muslimah, bekal aqidah yang harus digenggam erat dalam hati setiap muslimah di mana pun dan kapan pun untuk membentengi diri dari hal-hal yang merugikan bagi dirinya dan agamanya. Meskipun banyak orang-orang di sekeliling menghina, apa gunanya muslimah berjilbab tapi berakhlaq kurang tepat? Katakanlah, bahwa berjilbab dengan akhlaq itu berbeda, berjilbab itu perintah wajib dari Allah bagi wanita yang telah baligh entah berakhlaq baik ataupun buruk. Namun akhlaq adalah sikap dan sifat masing-masing individu. Jadi kalau ada wanita berjilbab yang berakhlaq buruk bukan jilbab yang disalahkan namun akhlaq wanita yang mesti diluruskan. Karena wanita yang berjilbab belum tentu berakhlaq mulia sebaliknya wanita yang berakhlaq mulia pasti berjilbab.

Bukankah wanita itu itu tiang negara; apabila wanitanya telah rusak, maka rusak pula negara tersebut, kerusakan itu dimulai dari kerusakan pribadi pemudi, kemudian keluarga hingga akhirnya menjalar pada kerusakan masyarakat dan Negara. Urutan kerusakan terseut telah dipikirkan matang-matang oleh musuh-musuh Islam. Meskipun wanita itu lemah namun wanita tak lemah dengan bekal yang ia bawa.
Berbekallah! Hingga penentang Islam tak mampu menyesatkanmu, dan berbekallah! Hingga propaganda-propaganda miring itu tak menemukan tempat di penglihatanmu.

Wallahu a’lam.[]  Artikel :http://bersamadakwah.net

Stop Pacaran !!! ssstt.....Ternyata Allah “membocorkan” Rahasia Tentang Jodohmu Dalam Al-quran…

Stop Pacaran !!! ssstt.....Ternyata Allah “membocorkan” Rahasia Tentang Jodohmu Dalam Al-quran…

10/12/2016 Add Comment

IPM Karanganyar – Sssstt... kita jangan pacaran dulu ya...Ternyata Allah membocorkan Rahasia Tentang Jodoh kita Dalam Al-Qur’an Sobt.

Jika suatu ketika seseorang atau mungkin kamu ditanya tentang jodohmu maka akan muncul beragam jawaban. Jika belum punya tambatan hati sama sekali biasanya jawabannya ingin jodoh yang serba sempurna contoh : maunya jodoh yang shaleh, tampan, mapan, hafalan Al-quran sekian juz, ibadah hariannya bagus, dari keturunan yang baik-baik yang pada intinya ketika masih kosong hati dan pikiran dari keterikatan hati dengan seseorang pada umumnya akan membuat pilihan target jodoh impian yang serba sempurna.

Tapi jika sudah punya tambatan hati atau mungkin pacar, maka jawabannya beda lagi. Jika ditanya tentang jodohnya  jawaban akan mengarah pada ciri-ciri pasangannya (pacarnya). Tak peduli lagi tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh “pacarnya” yang jelas maunya sama si dia.

Jawabannya akan berbeda lagi jika kita tanyakan kepada orang yang pernah gagal dalam pacaran, gagal menuju pernikahan mungkin pacarnya menikah duluan dengan orang lain atau putus. Biasanya kalau yang ini jawabannya agak rada pesimis, “semua laki-laki itu sama saja”, “saya tidak percaya lagi dengan laki-laki”, “saya sakit hati dengan laki-laki”, “untuk saat ini tidak mikirin jodoh dulu”, “Trauma nanti takut gagal lagi”.

Tapi jika usia sudah mulai lanjut, teman-teman sudah punya momongan, keluarga dan saudara sudah mulai bertanya “kapan menikah”, maka jawabannya tentang jodoh menjadi lebih simple. “Yang penting islam, shaleh, taat dan mampu membiayai keluarga”.

Ya, kurang lebih begitulah jawaban umum jika ditanya tentang jodoh ke beberapa orang, masing-masing orang tentu punya persepsi dan defenisi sendiri tentang jodohnya. Ada yang optimis dengan jodohnya, ada yang subjektiv dalam memberikan penilaian , ada yang pesimis dan ada juga yang sangat sederhana dan simple. Semua tentu bergantung pada pengalaman masa lalu, kondisi saat ini dan tentang bagaimana pengetahuannya terhadap jodoh.

Banyak orang yang galau tentang jodohnya, tak sedikit yang khawatir salah pilih atau malah tidak ada yang memilih sehingga memilih jalan maksiat pacaran sebagai ikhtiar untuk mendapatkan jodohnya. Yang pacaranpun jangankan mendapat solusi yang ada malah menambah masalah sehingga memandang pesimis perkara perjodohan. Di lain pihak ada juga yang semakin hari semakin gelisah karena Allah belum pertemukan ia dengan jodohnya sementara usia makin hari makin bertambah.

Kenapa banyak yang gelisah dan galau ketika berbicara jodoh ?, karena kebanyakan diantara kita memaksakan definisi dan persepsi pribadi kita tentang jodoh, mengikuti “ego” yang bahkan sudah bercampur dengan nafsu syahwat dalam menentukan jodoh kita. Jodoh memang misteri, tidak ada yang tau tentang siapa jodoh kita, namun kabar baiknya Allah sudah kasih sedikit bocoran tentang jodoh kita yang mana jika hal ini kita jadikan sebagai acuan tentu akan menjadi solusi utama kegalauan dan kegelisahan kita.

Allah membocorkan Rahasia tentang jodoh didalam surat An-nur Ayat 26 :

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Di ayat diatas Allah jelaskan laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik begitu juga sebaliknya. Disini kita mendapatkan sebuah “clue”  kalau jodoh itu adalah cerminan diri kita, ia sebagaimana diri kita. Jika kita shaleh, taat, suka membaca Al-quran, baik akhlak dan prilakunya In syaa Allah, Allah akan pertemukan juga dengan orang yang seperti itu.
Setelah mengetahui ini, tentu kita sama-sama memahami, meyakini dan tentu juga mengamalkannya. Diharapkan setelah mengetahui hal ini bisa mengubah persepsi kita dalam memahami jodoh, yang padamulanya mungkin fokus“pada siapa” jodohnya menjadi fokus “bagaimana pribadi saya” agar mendapatkan jodoh sesuai impian dan harapan saya.

Itulah bocoran Allah terhadapa jodoh kita. Mari sobat tinggalkanlah olehmu pacaran dan buang-buang waktu dikala muda. Tetaplah terus berkarya, Muda Mendunia.!
Sungguh Jihad Dijalan Allah lebih Aku cintai daripada menakhlukan hati seorang wanita, yang ternyata itu hanya menuruti nafsu pribadi kita.
Teruslah berkarya dan temukan Dia yang kamu cinta diantara Senandung Do’aMu ketika kamu Bersujud KepadaNya.


( Satrio W  ) Referensi : www.elmina-id.com
Dengarkanlah Nasehat....Sebentar Saja. #Nasehat Emas Imam Asy-Syafi’i

Dengarkanlah Nasehat....Sebentar Saja. #Nasehat Emas Imam Asy-Syafi’i

10/12/2016 Add Comment


Beliau rahimahullah berkata dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i,
Aku melihat pemilik ilmu hidupnya mulia walau ia dilahirkan dari orangtua terhina.
Ia terus menerus menerus terangkat hingga pada derajat tinggi dan mulia.
Umat manusia mengikutinya dalam setiap keadaan laksana pengembala kambing ke sana sini diikuti hewan piaraan.
Jikalau tanpa ilmu umat manusia tidak akan merasa bahagia dan tidak mengenal halal dan haram.
Diantara keutamaan ilmu kepada penuntutnya adalah semua umat manusia dijadikan sebagai pelayannya.
Wajib menjaga ilmu laksana orang menjaga harga diri dan kehormatannya.
Siapa yang mengemban ilmu kemudian ia titipkan kepada orang yang bukan ahlinya karena kebodohannya maka ia akan mendzoliminya.
Wahai saudaraku, ilmu tidak akan diraih kecuali dengan enam syarat dan akan aku ceritakan perinciannya dibawah ini:
Cerdik, perhatian tinggi, sungguh-sungguh, bekal, dengan bimbingan guru dan panjangnya masa.
Setiap ilmu selain Al-Qur’an melalaikan diri kecuali ilmu hadits dan fikih dalam beragama.
Ilmu adalah yang berdasarkan riwayat dan sanad maka selain itu hanya was-was setan.
Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.
Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,
Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.
Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.
Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.
Ilmu adalah tanaman kebanggaan maka hendaklah Anda bangga dengannya. Dan berhati-hatilah bila kebanggaan itu terlewatkan darimu.
Ketahuilah ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pikirannya tercurah pada makanan dan pakaian.
Pengagum ilmu akan selalu berusaha baik dalam keadaan telanjang dan berpakaian.
Jadikanlah bagi dirimu bagian yang cukup dan tinggalkan nikmatnya tidur
Mungkin suatu hari kamu hadir di suatu majelis menjadi tokoh besar di tempat majelsi itu.

***
Disadur dari kitab Kaifa Turabbi Waladan Shalihan (Terj. Begini Seharusnya Mendidik Anak), Al-Maghrbi bin As-Said Al-Maghribi, Darul Haq.

( Satrio W ) Referensi Pustaka : www.muslimah.orid



Laa Tahzan,  Jangan Bersedih Jika Masalah Menimpamu

Laa Tahzan, Jangan Bersedih Jika Masalah Menimpamu

10/07/2016 Add Comment

Ipm Karanganyar - SETIAP orang pasti akan menghadapi masalah dalam hidupnya. Ketika masalah satu sudah selesai maka akan datang masalah berikutnya. Namun, janganlah merasa bosan dengan itu semua. Hal-hal seperti itu pasti akan dialami oleh semua orang. Justru hal-hal seperti itu yang nantinya akan menguatkan kita di kemudian hari. Sekarang Anda tidak perlu khawatir ketika menghadapi masalah dalam hidup ini. Berikut ada 5 ayat dari Al-Qur’an yang Insha Allah akan memotivasi kita ketika menghadapi masalah, yaitu:
1. Anda bisa berubah, jika Anda mau mengubah diri Anda
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11).
Apa pun kondisi Anda saat ini, jika Anda mau berubah, maka Anda harus mengubah diri sendiri. Maka Allah akan mengubah Anda. Inilah yang sering dilupakan, banyak yang berharap orang lain atau yang di luar berubah, tetapi melupakan diri sendiri yang diubah.
Ayat ini memotivasi kita untuk mengubah diri kita, maka yang lain akan berubah atas bantuan Allah. Jangan hanya menuntut yang di luar diri berubah.
Anda jauh lebih mudah mengubah diri sendiri, daripada mengubah orang lain. Ayat ini adalah motivasi untuk berubah.
2. Kebaikan di balik yang tidak kita sukai
“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui,“ (QS. Al-Baqarah: 216).
Sering kali, saat seseorang mendapati sesuatu yang tidak dia sukai, maka dia marah, kecewa, sedih, ngomel, dan akhirnya putus asa. Padahal, bisa jadi apa yang tidak dia sukai itu malah baik baginya.
Jangan kecewa saat Anda tidak diterima di sebuah perusahaan untuk menjadi karyawannya. Bisa jadi itu yang terbaik bagi Anda. Bisa jadi Anda akan mendapatkan pekerjaan lebih baik. Bisa jadi, justru akan mendapatkan hal buruk jika diterima di perusahaan itu.
Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi. Untuk itu, syukuri apa pun yang terjadi saat ini termasuk penolakan dan kekecewaan lainnya.
3. Anda pasti sanggup
“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (QS. Al-Baqarah: 286).
Jika Anda mengatakan, “saya tidak akan sanggup”, sebenarnya Anda sudah mendahului Allah. Anda sok tahu, bahwa Anda tidak akan mampu. Kata siapa? Itu hanya pemikiran negatif Anda. Bisa karena malas, manja, atau cengeng.
Padahal jelas, dalam ayat di atas bahwa kita tidak akan dibebani beban apa pun kecuali sesuai dengan kesanggupan kita. Jika Anda berpikir tidak sanggup, itu hanya anggapan Anda saja.
Anda pasti sanggup jika Anda menyanggupinya. Jangan kalah oleh pikiran negatif Anda yang dengan mudah mengatakan tidak sanggup.
4. Kemudahan bersama kesulitan
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Kebanyakan orang, saat menghadapi kesulitan, dia berhenti alias menyerah. Ada juga yang mengeluh, berharap orang lain mau membantunya mengatasi kesulitan dia. Padahal, bersama kesulitan itu adalah kemudahan.
Jika Anda menghindari kesulitan, Anda tidak akan mendapatkan kemudahan. Jika Anda berharap orang lain yang mengatasi kesulitan, maka kemudahan akan menjadi milik orang lain. Anda tidak akan mendapatkan kemudahan dari kematangan, keterampilan, dan pengalaman yang didapatkan.
5. Takwa dan tawakal
“Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya,” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).
Dua akhlak ini luar biasa. Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Sedang menghadapi masalah atau tantangan besar? Butuh jalan keluar? Maka bertakwalah, Allah akan memberikan jalan keluar juga rezeki yang tidak ia sangka.
Jika kekuatan tawakal, Anda akan dicukupkan, termasuk dicukupkan segalanya untuk menghadapi rintangan, halangan, tantangan, dan juga masalah. []

Sumber: www.motivasi-islami.com

Kalau Memang …

10/07/2016 Add Comment

IPM Karanganyar - KALAU memang belum sanggup beli mobil, nggak usah maksa Leasing. Udah motoran aja…
Kalau memang belum sanggup beli rumah, nggak usah maksa KPR. Udah ngontrak aja…
Kalau memang belum sanggup beli kantor, nggak usah maksa Ngutang. Udah sewa aja…
Jangan pusing dengan penilaian orang. Pusinglah dengan nasibmu di masa depan jika itu semua Anda lakukan.
Kebanyakan masalah terjadi bukan karena Kebutuhan yang sudah tercukupi, melainkan karena keinginan yang terlalu tinggi, tapi tidak terbeli.
Kuncinya adalah: Sabar.
Tunda kesenangan. Tunda kesenangan. Tunda kesenangan.
Gaya hidup mewah tidak menunjukkan bahwa hidup kita Kaya. Justru itu semua menunjukkan bahwa kita Banyak Gaya.
Bukankah agama menganjurkan kita untuk tidak hidup dalam bermewah-mewahan?
Udah. Santai saja. Jika saat ini apa yang menjadi keinginanmu belum tercapai, jangan dipaksakan.
Sabarlah. Dan berjuanglah untuk mendapatkan dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Jangan mau instan. []
Sumber: https://web.facebook.com/dewaekaprayoga/photos/a.284597748343712.1073741824.152054948264660/831981523605329/?type=3&theater

Istirahatlah

10/07/2016 Add Comment


Ipm Karanganyar _ SEORANG pria paruh baya dan seorang pemuda mulai menebang kayu pagi-pagi buta. Mungkin karena tenaganya sudah tidak terlalu besar, setiap 50 menit, si pria paruh baya akan istirahat selama 10 menit lamanya. Sedangkan si pemuda, mungkin karena tenaganya yang masih kuat, ia tidak pernah beristirahat sedetikpun dan hanya terus bekerja.


Ketika waktu bekerja selesai, si pemuda menyadari suatu hal yang mengejutkan. Hasil kayu yang ditebang pria paruh baya jauh lebih banyak dari yang ia tebang.
Kemudian, si pemuda tersebut bertanya kepada pria tersebut untuk belajar darinya.
Lalu, si pria paruh baya itu menjawab, “Istirahat juga merupakan sebuah pekerjaan. Selain bisa memberikan pasokan tenaga yang cukup bagi tubuh, istirahat juga bisa mengasah energi yang kita miliki.”
“Bekerja dan belajar dengan gigih memang bagus, akan tetapi alangkah lebih baik lagi jika disesuaikan dengan beristirahat. Tubuh kita juga memiliki batas dan kemampuan tertentu ketika digunakan. Ketika batas tersebut sudah hampir terlampaui, beristirahatlah. Itu adalah cara yang paling baik untuk membuat tubuh kembali bertenaga.”
Ketika manusia bekerja dengan tubuh yang kuat dan segar, maka hasil yang baik akan tercapai karena dikerjakan dengan lebih semangat. Sebaliknya, jika pekerjaan terus menerus dilakukan tanpa ada waktu beristirahat, maka tubuh tidak akan mampu menahan rasa lelah dan letih, dan bisa menyebabkan pekerjaan yang sedang dikerjakan berantakan. Jadi, beristirahatlah.
( Satrio W )Sumber Ref. : Iphincow.com

Kitakah Pendatang Keajaiban Itu?

10/07/2016 Add Comment


Ipm Karanganyar - ALKISAH usai makan siang bersama, seorang pemuda dengan seorang teman kantornya berjalan santai menyusuri jalanan.  Tiba-tiba dari arah yang berlawanan, seorang perempuan tua berpakaian sederhana menghampiri keduanya sambil menenteng beberapa kantong plastik berisi sayuran.

“Maaf Tuan, mau beli sayuran ini? Saya sendiri yang menanam dan memetiknya,” sambil tangan keriputnya mengulurkan kantong plastik.
Setelah menatap si nenek sebentar, tanpa basa-basi, si teman mengeluarkan dompet dan membayarnya. Tiga kantong plastik sayuran pun berpindah tangan.
“Terima kasih Tuan, semoga Tuan diberi lancar rezeki,” dengan suara bergetar terharu si nenek menggenggam erat uang jualannya.
Setelah nenek itu berlalu, si pemuda bertanya heran kepada temannya, “Kamu beneran mau makan sayur ini? Kamu lihat sendiri sayur itu sudah layu dan mulai kuning, berulat lagi!”
Dengan tertawa kecil, si teman menjawab, “Ya enggak lah! Sayuran ini tidak layak dimakan.”
“Lha.. kenapa kamu beli?”
“Karena kalau enggak aku beli, nggak ada orang yang mau membelinya. Kan kasihan si nenek nggak dapat penghasilan.”
Si pemuda terhenyak kagum atas kebaikan si teman. Segera pemuda itu berbalik mengejar si nenek untuk melakukan hal yang sama. Sambil berlinang air mata si nenek berucap,
“Anak muda, terima kasih. Nenek tahu, kalian membeli sayur ini karena kasihan melihat nenek. Sayurannya memang kurang segar.. Kalau bukan kalian, tidak ada yang mau membelinya. Uang ini sungguh sangat berarti untuk membeli obat, untuk cucu nenek yang sedang sakit. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian.”
Pembaca yang bijaksana,
Sayuran yang tidak bisa dimakan pun ternyata mampu memberi pelajaran berharga untuk kita semua. Saat jatuh dan terpuruk, kita sungguh berharap keajaiban akan datang kepada kita, mendapatkan pertolongan entah dari mana atau dari siapa. Namun sebaliknya, ketika kita punya kemampuan, ketika kita sukses, apakah kita bersedia menjadi orang yang mendatangkan keajaiban itu? Mau mengulurkan tangan berbagi kepada sesama?
Kebaikan memang butuh dipraktikkan, kebaikan perlu dibiasakan; seperti kata mutiara yang mengatakan, “Kadang  memang sulit menjadi orang baik, tetapi lebih baik menjadi orang baik walaupun sulit.” []
( Satrio W ) Disadur dari Andriewongso.com

10 Pesan Inspiratif Anies Baswedan. Jadi Tambah Yakin, Kita Semua Harus Berjuang untuk Pendidikan

10 Pesan Inspiratif Anies Baswedan. Jadi Tambah Yakin, Kita Semua Harus Berjuang untuk Pendidikan

8/02/2016 Add Comment
http://blog.turuntangan.org
Sosok Anies Baswedan punya citra yang populer di kalangan anak muda. Seorang intelektual dan akademisi asal Indonesia yang digandeng Presiden Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Kerja sejak 2014. Sumbangsihnya terhadap dunia pendidikan Indonesia sebelum menjabat jadi menteri pun sudah dikenal lewat inisiasi gerakan Indonesia Mengajar.
Namun beberapa hari lalu, Presiden Jokowi mengumumkan kabar reshuffle Kabinet Kerja. Salah satunya adalah mengganti Pak Anies dengan Pak Muhadjir. Digantinya Pak Anies jelas bikin kaget kaum muda, soalnya nggak sedikit yang sudah terlanjur jadi pengagum setianya.
Jabatan boleh berganti, namun inspirasi tetap tak pernah mati. Hipwee merangkum kutipan-kutipan beliau yang bisa menjadi pemantik semangat buatmu kaum muda yang harus tetap semangat berjuang demi pendidikan.

1. Di mana pun kamu lahir, kamu punya hak untuk bermimpi. Maka, janganlah pernah berhenti

Targetmu harus terus tinggi via pexels.com

2. Perangkat pendidikan kapan pun bisa berubah. Jangan fokus ke sistemnya, tapi ke kualitas sumber daya manusianya

Pendidikan kualitas pasti ikut meningkat via pexels.com

3. Tak hanya kemampuan, mentalitas guru juga jadi faktor utama dalam menentukan masa depan pendidikan

Integritas adalah kunci

4. Jangan pernah jadi orang yang gampang puas! Masih banyak puncak-puncak yang harus kau capai

Mendaki puncak-puncak baru via pexels.com

5. Tugas kita bersama adalah menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan, bukan tempat yang menakutkan

Jangan bikin sekolah jadi menakutkan via pexels.com

6. Orang-orang baik jangan pernah diam. Buktinya banyak orang baik selalu menang

Kalau merasa baik, jangan diam! Bongkar via pexels.com

7. Berhenti menyalahkan nasib burukmu, mulailah memantik cahaya demi terangnya masa depanmu

Mulailah nyalakan cahaya untuk masa depan via pexels.com

8. Kaum muda, jangan dulu tersanjung dengan pembelaan ini. Bacalah baik-baik, dan pikirkan mendalam pesan ini


Anak muda tawarkan masa depan via pexels.com

9. Pendidikan di Indonesia bukan hanya tanggung jawab negara, tapi semua orang-orang yang terdidik

Tanggungjawab bersama orang terdidik via pexels.com

10. Setuju atau tidak, manusia memang sebuah kekayaan bagi bangsa dan negara


Manusianya, bukan alamnya. via pexels.com
Nah itulah 10 kutipan tentang kehidupan, yang kebanyakan berbicara soal pendidikan. Bergantinya Pak Anies dari jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bukan berarti mendorong kita untuk berhenti mendukung pendidikan Indonesia juga. Justru, semangat ini harus tetap kita jaga.
Keep awesome in your way, Pak Anies!

Sumber : http://www.hipwee.com ( www.pdipmkra.org )
Pohon Apel

Pohon Apel

7/30/2016 Add Comment
Assalamu'alaikum Sobatku Semua. Siang Buat Anda Semuaaaa....... :-)
Sudah makan siang ?? 
Kalo Belum Jangan lupa makan dulu.Baru nanti internettan lagi.
Orang Sekarang kalo belum makan/ gak mau makan itu bukan karna gak ada Nasi,
Tapi Orangnya aja yg gk mau makan. Jadi mau alasan apalagi ? :p
Udah Dulu ya basa basinya. Entar cepet basi lagi :-)
Sobat, Karna Siang ini saya Habis makan Buah Apel. Jadi ingat cerita si Pohon Apel Ni.
Yukk Simak Kisah Hikmahnya Disini

Dahulu kala, ada sebuah pohon apel besar. Seorang anak kecil suka datang dan bermain-main setiap hari. Dia senang naik ke atas pohon, makan apel, tidur sejenak di bawah bayang-bayang pohon apel … Ia mencintai pohon apel iu dan pohon itu senang bermain dengan dia. Waktu berlalu …….

Anak kecil itu sudah dewasa dan dia berhari-hari tidak lagi bermain di sekitar pohon. Suatu hari anak itu datang kembali ke pohon dan ia tampak sedih. “Ayo bermain dengan saya,” pinta pohon apel itu. Aku bukan lagi seorang anak, saya tidak ‘bermain di sekitar pohon lagi. “Anak itu menjawab,” Aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk membelinya. “” Maaf, tapi saya tidak punya uang ….. tapi Anda bisa mengambil buah apel saya dan menjualnya. Maka Anda akan punya uang. “Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua apel di pohon dan pergi dengan gembira. Anak itu tidak pernah kembali setelah ia mengambil buah apel. Pohon itu sedih.

Suatu hari anak itu kembali dan pohon itu sangat senang. “Ayo bermain-main dengan saya” kata pohon apel. Saya tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Dapatkah Anda membantu saya? “Maaf tapi aku tidak punya rumah. Tetapi Anda dapat memotong cabang-cabang saya untuk membangun rumahmu.” Lalu, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting dari pohon dan pergi dengan gembira. Pohon itu senang melihatnya bahagia, tapi anak itu tidak pernah kembali sejak saat itu.

Pohon itu kesepian dan sedih. Suatu hari di musim panas, anak itu kembali dan pohon itu begitu gembira. “Ayo bermain-main dengan saya!” kata pohon. “Saya sangat sedih dan mulai tua. Saya ingin pergi berlayar untuk bersantai dengan diriku sendiri. Dapatkah kau memberiku perahu?” “Gunakan batang pohonku untuk membangun perahu. Anda dapat berlayar jauh dan menjadi bahagia.” Lalu anak itu memotong batang pohon untuk membuat perahu. Dia pergi berlayar dan tak pernah muncul untuk waktu yang sangat panjang.

Akhirnya, anak itu kembali setelah ia pergi selama bertahun-tahun. “Maaf, anakku, tapi aku tidak punya apa-apa untuk Anda lagi. Tidak ada lagi apel untuk ananda. …” kata pohon “.” Saya tidak punya gigi untuk menggigit “jawab anak itu.” Tidak ada lagi batang bagi Anda untuk memanjat . “Saya terlalu tua untuk itu sekarang” kata anak itu. “Saya benar-benar tak bisa memberikan apa-apa ….. satu-satunya yang tersisa adalah akar sekarat” kata pohon apel dengan air mata. “Aku tidak membutuhkan banyak sekarang, hanya sebuah tempat untuk beristirahat. Saya lelah setelah sekian tahun.” Anak itu menjawab, “Bagus! Akar Pohon Tua adalah tempat terbaik untuk bersandar dan beristirahat di situ.” “Ayo, ayo duduk bersama saya dan istirahat” Anak itu duduk dan pohon itu sangat gembira dan tersenyum dengan air mata.

Ini adalah cerita untuk semua orang. Pohon adalah orang tua kita. Ketika kita masih muda, kita senang bermain dengan Ibu dan Ayah … Ketika kita tumbuh dewasa, kita meninggalkan mereka … hanya datang kepada mereka ketika kita memerlukan sesuatu atau ketika kita berada dalam kesulitan. Tidak peduli apa pun, orang tua akan selalu berada di sana dan memberikan segala sesuatu yang mereka bisa untuk membuat Anda bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak laki-laki itu kejam kepada pohon tapi itu adalah bagaimana kita semua memperlakukan orang tua kita.

Semoga Kisah Ilustrasi diatas bisa menjadi hikmah kita semua.
Tetap Semangat kawan. Mari Kita Jaga  Istiqomah kita. 

Red :Satrio W ( www.pdipmkra.org )
Pilihan Sulit

Pilihan Sulit

7/27/2016 Add Comment
Silahkan pilih orang yang terpenting dalam sepanjang
hidupmu.

Disaat menuju jam-jam istirahat kelas, dosen
mengatakan pada mahasiswa dan mahasiswinya:

“Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar.”
Kemudian salah satu mahasiswi berjalan menuju pelataran
papan tulis.

DOSEN: Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda,
pada papan tulis.

Dalam sekejap sudah di tuliskan semuanya oleh mahasiswi
tersebut. Ada nama tetangganya, teman kantornya, orang
terkasih dan lain-lain.

DOSEN: Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang
menurut anda paling tidak penting !

Mahasiswi itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.

DOSEN: Silahkan coret satu lagi!

Kemudian mahasiswi itu mencoret satu nama teman kantornya
lagi.

DOSEN: Silahkan coret satu lagi !

Mahasiswi itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan
seterusnya.
Sampai pada akhirnya di atas papan tulis hanya tersisa tiga
nama, yaitu nama orang tuanya, suaminya dan nama anaknya.
Dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua
Mahasiswa dan mahasiswi tertuju memandang ke arah dosen,
dalam pikiran mereka (para mahasiswa atau mahasiswi) mengira
sudah selesai tidak ada lagi yang harus dipilih oleh mahasiswi
itu.

Tiba-tiba dosen memecahkan keheningan dengan berkata,
“Silahkan coret satu lagi!”

Dengan pelahan-lahan mahasiswi itu melakukan suatu pilihan
yang amat sangat sulit. Dia kemudian mengambil kapur tulis,
mencoret nama orang tuanya.

DOSEN: Silahkan coret satu lagi!

Hatinya menjadi binggung. Kemudian ia mengangkat kapur
tulis tinggi-tinggi. Lambat laun menetapkan dan mencoret
nama anaknya. Dalam sekejap waktu, terdengar suara isak
tangis, sepertinya sangat sedih.

Setelah suasana tenang, Dosen lalu bertanya, “Orang terkasihmu
bukannya Orang tuamu dan Anakmu? Orang tua yang
membesarkan anda, anak adalah anda yang melahirkan, sedang
suami itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa anda berbalik lebih
memilih suami sebagai orang yang paling sulit untuk
dipisahkan?

Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang
akan di jawabnya.

Setelah agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata,
“Sesuai waktu yang berlalu, orang tua akan pergi dan
meninggalkan saya, sedang anak jika sudah besar setelah itu
menikah bisa meninggalkan saya juga, yang benar-benar bisa
menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.”

SEBENARNYA, KEHIDUPAN BAGAIKAN BAWANG BOMBAI, JIKA
DIKUPAS SESIUNG DEMI SESIUNG, ADA KALANYA KITA DAPAT
DIBUAT MENANGIS
Bosan ?

Bosan ?

7/27/2016 Add Comment

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu :”Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”

Pak Tua :“Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”

Tamu :”Kenapa kita merasa bosan?”

Pak Tua :”Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”

Tamu :”Bagaimana menghilangkan kebosanan?”

Pak Tua : “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”

Tamu :”Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”

Pak Tua:”Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”

Tamu :”Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”

Pak Tua :”Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”

Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”

Pak Tua :“Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.”

Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu :”Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”

Pak Tua :”Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”

Tamu :”Contohnya? ”

Pak Tua :”Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”
Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu :“Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”

Sambil tersenyum Pak Tua berkata:“Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”
Doa seorang Ibu

Doa seorang Ibu

7/27/2016 Add Comment
https://dwiky10.files.wordpress.com/2011/04/ibu1.jpg 

Doa seorang ibu sungguh mustajab. Balk doa kebaikan ataupun doa buruk. Rosululloh pernah menyampaikan suatu kisah menarik berkaitan dengan doa ibu. 5uatu kisah nyata yang terjadi pada masa sebelum Rosululloh yang patut diambil sebagai ibroh bagi orang-orang yang beriman.
Dahulu, ada tiga orang bayi yang bisa berbicara. Salah satunya adalah seorang bayi yang hidup pada masa Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah, dia memiliki sebuah tempat ibadah yang sekaligus jadi tempat tinggalnya.

Suatu ketika Juraij sedang melaksanakan sholat, tiba-tiba ibunya datang memanggilnya: “Wahai Juraij”. Dalam hatinya, Juraij bergumam: “Wahai Robbku, apakah yang harus aku dahulukan… meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?!”.

Dalam kebimbangan, dia tetap meneruskan sholatnya. Akhirnya sang ibu pulang. Esok harinya, sang ibu datang lagi dan memanggil: “Wahai Juraij!”. Juraij yang saat itu pun sedang sholat bergumam dalam hatinya: “Wahai Robbku, apakah aku harus meneruskan sholatku… Ataukah (memenuhi) panggilan ibuku?l”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya.

Sang ibu kembali pulang untuk-kedua kalinya. Ketiga kalinya, ibunya datang lagi seraya memanggil: “Wahai Juraij!”. Lagi-lagi Juraij sedang menjalankan sholat. Dalam hatinya, ia bergumam: “Wahai Robbku, haruskah aku memilih meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?I”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya.

Akhirnya, dengan kecewa setelah tiga kali panggilannya tidak mendapat sahutan Bari anaknya, sang ibu berdoa: “Ya Alloh,janganlah engkau matikan Juraij hingga dia melihat wajah wanita pelacur”.
Orang-orang Dani Israil (ketika itu) sering menyebut-nyebut mama Juraij serta ketekunan ibadahnya, sehingga ada seorang wanita pelacur berparas cantik jelita mengatakan: Jika kalian mau, aku akan menggodanya (Juraij).

Wanita pelacur itupun kemudian merayu dan mengwarkan diri kepada Juraij. Tetapi sedikitpun Juraij tak memperdulikannya. Namun apa yang kemudian dilakukan oleh wanita itu? Ia mendatangi seseorang yang tengah menggembala di sekitar tempat ibadah Juraij.

Lalu demi terlaksananya tipu muslihat, wanitu itu kemudian merayunya. Maka terjadilah perzinaan antara dia dengan penggembala itu. Hingga akhirnya wanita itu hamil.
Dan manakala bayinya telah lahir, dia membuat pengakuan palsu dengan berkata kepada orang-orang: “Bayi ini adalah anak Juraij.” Mendengar hal itu, masyarakat percaya dan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah Juraij, memaksanya turun, merusak tempat ibadahnya dan memukulinya.
Juraij yang tidak tahu masalahnya bertanya dengan heran: “Ada apa dengan kalian?”. “Kamu telah berzina dengan wanita pelacur lalu dia sekarang melahirkan anakmu”, jawab mereka.
Maka, tahulah Juraij bahwa ini adalah makar wanita Iacur itu. Lantas bertanya: “Dimana bayinya?”. Merekapun membawa bayinya. Juraij berkata: “Biarkan saya melakukan sholat dulu”, kemudian dia berdiri sholat.

5eusai menunaikan sholat, dia menghampiri si bayi lalu mencubit perutnya seraya bertanya: “Wahai bayi, siapakah ayahmu?” Si bayi menjawab: “Ayahku adalah si fulan, seorang penggembala”.
Akhirnya, masyarakat bergegas menghampiri Juraij, mencium dan mengusapnya. Mereka minta maaf can berkata: “Kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas”. Juraij mengatakan: “Tidak, bangun saja seperti semula yaitu dari tanah Hat”. Lalu merekapun mengerjakannya.
Hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini
Di antara hikmah 1 yang bisa dipetik dari sini adalah:

1. Menetapkan adanya mu’jizat bagi para Nabi dan karomah bagi para wali Alloh.
2. Wajibnya mendahulukan birrul walidain daripada perkara-perkara sunnah, seperti sholat (sunnah) dan sejenisnya.
3. Keutamaan ilmu daripada ibadah. Juraij adalah seorang ahli ibadah tetapi bukan ahli ilmu. Seandainya dia berilmu, niscaya dia akan mendahulukan panggilan ibunya daripada ibadah sunnahnya.
4. Doa ibu adalah mustajab (terkabulkan).
5. Fitnah terbesar yang menimpa suatu umat adalah fitnah wanita.
6. Fitnah tidaklah membahayakan bagi orang yang beriman.
7. Apapun problematika yang menimpa, solusinya adalah memohon pertolongan kepada Alloh saja dengan sholat dan doa.

Remora???

7/13/2016 Add Comment

Tak banyak penghuni laut yang bisa sebebas ikan remora. Kemana pun remora pergi, ia selalu merasa aman. Jangankan ikan sedang seukuran dirinya, ikan besar pun tidak akan berani mendekat.
Itu bukan karena remora besar dan gagah. Bukan juga karena ikan yang hampir seukuran tenggiri ini punya racun yang mematikan. Jawabannya sederhana, remora selalu bersama pemangsa paling ditakuti seisi penghuni laut, hiu. Kemana pun hiu pergi, seperti apa pun hiu bertingkah, di situlah dan begitulah keadaan remora.

Suatu kali, remora tampak mendekati seekor penyu tua yang asyik memandangi kesibukan bawah laut. ”Hai Pak Tua! Kenapa kamu tidak berenang menikmati hangatnya laut siang? Takut, ya?” ucap remora agak menyombongkan diri.

Sang penyu tua menoleh ke arah remora, kemudian ia tersenyum. ”Aku tidak takut, remora. Aku justru sedang menikmati keindahan laut dengan caraku yang seperti ini?” jawab si penyu tua. ”Apa kamu mau bergabung denganku?” tambah sang penyu kemudian.
”Ah, dasar penyu tua! Mana sempat aku bersamamu, aku harus selalu bersama bosku, kemana pun dia pergi. Di situ aku bisa dapat keamanan, dan dengan begitu pula aku bisa dapat makanan,” jawab remora mulai agak bergegas.

”Tunggu dulu remora. Dalam hatimu yang paling dalam, apa kamu tidak merasa bersalah selalu bersama makhluk pembunuh paling ganas di lingkungan kita?” ucap sang penyu tua, agak serius.
”Ah, Pak Tua. Kalau kita ingin tetap hidup, lupakan yang namanya damai dan kejam,” jelas remora ringan. Dan remora pun mulai pergi menuju arah sang hiu.
”Hai remora!” teriak sang penyu tua ke arah remora. ”Satu hal yang kamu lupa!” ucap sang penyu tua.
Penasaran dengan apa yang diucapkan si penyu tua, remora pun berenang mendekat ke arah penyu tua, ”Apa, Pak Tua?”
”Satu hal yang kamu lupa, apa kamu juga akan ikut mati, kalau bosmu mati?” ucap sang penyu tua memberikan isyarat agar tak perlu dijawab.

**
Dalam dunia persaingan, baik individu maupun organisasi, ada orang atau pihak yang mengambil strategi berada di bawah bayang-bayang yang besar, kuat, dan ditakuti.
Dari segi ongkos tenaga dan biaya, orang atau pihak ini merasa tak perlu mengeluarkan banyak hal, tapi bisa meraih berbagai hal: keamanan, gengsi, dan sejumlah makanan, walaupun sisa.
Yang harus ia lakukan sangat sederhana: selalu mengikuti kemana pun sang bos pergi, dan bertingkah sebagaimana bos bertingkah, tanpa perduli apa kata nilai dan nurani.

Namun, kadang mereka lupa. Bahwa, dengan mengambil langkah itu, ia tidak akan pernah lebih besar dari sang bos. Dan seperti yang diucapkan penyu tua kepada remora, bagaimana jika sang bos tidak bisa lagi diikuti untuk selamanya?

( Ref : eramuslim.com / By www.pdipmkra.org )
Pesan Muhammad Ali untuk putrinya Hana yg mengenakan pakaian tidak sopan

Pesan Muhammad Ali untuk putrinya Hana yg mengenakan pakaian tidak sopan

7/12/2016 Add Comment
“Hana, segala yang Allah jadikan berharga di dunia ini semuanya disembunyikan dan sulit untuk dijangkau.
Di mana engkau menemukan permata? Jauh di dalam tanah, tersembunyi dan terlindungi. 

Di mana engkau menemukan mutiara? Jauh di dasar samudera, tertutup dan terlindungi oleh cangkang yang indah. 

Di mana engkau menemukan emas? Jauh di dalam tambang, tertutup oleh berlapis-lapis batuan. Engkau harus berusaha keras untuk bisa mendapatkan mereka.” Ia memandangku dengan tatapan serius. “Tubuhmu suci. Engkau lebih berharga dibandingkan dengan permata dan mutiara, dan dirimu [tubuhmu] harus ditutupi juga.“

Itu adalah satu dari banyak pelajaran yang ditanamkan oleh Muhammad Ali kepada anaknya dan akan terus mengilhami anaknya dan saudari-saudariku, hingga sekarang.
Bagaimana dengan kamu ?
Ukhti yang di muliakan Allah, Seandainya kita diberi dan disuruh memilih,
Pilih permen yang sudah terbuka bungkusnya atau yang belum terbuka bungkusnya ?
Pasti kita pilih yang masih utuh.
 
Seperti itulah Kita, Kalo kita menyakini Hidup pasti mati.
Pasti kita juga menyakini bahwa god women for god men dan sebaliknya.
Laki2 yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik untuk laki2 yang baik ( QS.AnNur:24 )
Tundalah kesenengan yang fana ,yang kecil di dunia ini demi Kenikmatan yang besar Di Akhirat.
Yakinlah, Semakin Besar perjuangan yang kita lakukan, Semakin besar kenikmatan iTU.
 
Kenapa Wanita harus Menutup Aurat ? Harus tertutup kecuali wajah dan telapak tangan ?
Berbeda dengan laki2 yang batas auratnya pusar sampe lutut ??
Jawabnya.. Karena Dirimu Indah Ukhti... Lihatlah hadist dibawah ini.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Imam Muslim)
 
( Red: Satrio W / By www.pdipmkra.org )
Pecandu Handphone

Pecandu Handphone

7/12/2016 Add Comment

Kecanggihan teknologi kini rasanya bukan lagi mempererat persaudaraan tapi malah cenderung menjadikan jurang pemisah. Betapa tidak, dengan adanya teknologi misalnya saja handphone, pentingnya silaturahim secara fisik menjadi hal yang terabaikan.

Sebuah petikan khutbah Jumat di Masjidil Haram dari Imam Asy-Syaikh Su’ud asy-Syuraim ini hendaklah menjadi pengingat sekaligus tamparan bagi kita dimana  beliau berkata:
“Adakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya WhatsApp, Facebook, Instagram dan yang lainnya dalam kehidupannya ?”

Hal ini merupakan “Ghazwul fikri” yang menyerang akal.  Namun sangat disayangkan kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari dien Islam yang lurus dan dari dzikir kepada Allah.
Kenapa hati kita mengeras?

Itu karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan, dan juga kejadian-kejadian yang di-share..

Hati kita kini mempunyai kebiasaan yang tak lagi takut pada sesuatu pun. Oleh karena itulah, hati kita menjadi mengeras bagai batu.

Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan ?
Karena kini silaturrahmi kita hanya via WhatsApp saja, seakan kita bertemu mereka setiap hari.
Padahal bukan begitu tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam. Kita perlu datang secara fisik, mengucap salam, bersalaman, membawa oleh-oleh, saling ingat mengingat kan, nasihat menasihati, saling doa mendoakan, dll.

Kenapa kita sangat sering mengghibah (ngrumpi), padahal kita tidak sedang duduk dengan seorang pun?
Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi ghibah terhadap seseorang atau suatu kelompok, dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya.
Dengan begitu cepatnya kita mengghibah, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu.

Sangat disayangkan, kita telah menjadi pecandu.
Kita makan, handphone ada di tangan kiri kita.
Kita duduk bersama teman-teman, HP ada di genggaman.
Berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone ada di tangan pula.
Sedang mengemudi kendaraan, HP juga di tangan.
Sampai-sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone.

“Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan pada teknologi ini. Karena sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal, betapa kita merasa sangat kehilangan…
Ah, andai perasaan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul (pembacaan) Quran kita…”
Adakah dari kita yang mengingkari hal ini? Dan siapa yang tidak mendapatkan perubahan negatif dalam kehidupannya, setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah menjadi pecandu?
Demi Allah,
Siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur?
Apakah HP ?

Mari kita sama-sama kembali kepada Allah, jangan sampai ada hal-hal yang menyibukkan kita dari dien (agama) kita. Karenanya kita tidak tahu, berapa lamakah sisa umur kita”.
ALLAH berfirman:
“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”.
(QS.Thoha: 124)

Semoga handphone yang kita miliki adalah wasilah untuk kebaikan dan bukan wasilah dalam keburukan…

Referensi : muslimahzone.com  #By www.pdipmkra.org
Renungan Pemimpin: Rindu Pemimpin Yang Memenangkan Hati Kami Bukan Hanya Badan Kami

Renungan Pemimpin: Rindu Pemimpin Yang Memenangkan Hati Kami Bukan Hanya Badan Kami

6/29/2016 Add Comment


Assalamu'alaikum Sobatku IPM dan pembaca semua.
Kamu semua adalah pemimpin, Semua akan ditanya tentang kepemimpinan kita dahulu di dunia.
Tapi taukah kamu sobat, pemimpin bukanlah orang yang paling kuat seperti zaman jahiliyah dahulu.
Setelah islam datang, Islam mengatur itu semua. Semua lini Kehidupan.
Dibawah ini saya tuturkan kisah Rasulullah yang begitu Mulia.

Di kisahkan di hari-hari akhir Rasullah S.A.W mendekati meninggal dunia. Rasullah mengumpulkan banyak sahabat-sahabat dalam suatu majlis melingkar.
Rasul Muhammad s.a.w berkata : Wahai semua sahabatku sebelum aku nanti meninggalkan dunia, dan aku hari ini sebagai pemimpinmu maka aku kumpulkan kalian untuk satu hal, yaitu bahwa jika ada di antara kalian yang pernah aku sakiti silakan kalian meng-qhisasku(membalasku) dengan yang setimpal yang dulu pernah di lakukan”.

Para sahabat banyak tertunduk dan beberapa ada yang menangis mendengar perkataan rasul tadi. Karena memahami bahwa mungkin sebentar lagi Rasul yang di cintainya sebentar lagi sudah tidak akan bersama lagi.

Sampai tiga kali Rasul berkata : Silakan siapa yang mau meng-qhisas diriku?

Di tengah keheningan dan kesedihan para sahabat. Ada satu sahabat yang angkat bicara yaitu seorang sahabat nabi bernama Ukyasah. “Saya ya Rasul…. Saya akan meng-qhisas Anda ya Rasullah”…

Sahabat yang lain Umar bin Kkatab berkata langsung berdiri dan marah. Umar : Apa yang akan kamu lakukan buat baginda nabi ya Ukyasah. Jika kamu menyakiti Rasul akan aku penggal kepala kamu”.

Baginda Rasul yang agung berkata : “Biarkan Ukayah ya … Umar!!!”.

Sahabat yang lain Abu Bakar pun sama segera maju dan berkata : “ Wahai Ukyasah, Abu Bakar dan keluarganya yang akan menebusnya ya Ukasyah “.

Rasullah Muhammad juga masih melarang dengan lembut kemarahan Umar dan Abu Bakar. Rasul tahu para sahabat banyak yang menahan amarah. Tapi rasul tetap bersikap tenang dan mempersilahkan Ukasyah untuk bicara.

Kemudian Ukasyah menceritakan kejadiannya : “Pada saat aku mengiringi engkau berperang cambukmu pernah mengenai punggungku ya Rasul..untuk itu kali ini aku ingin mencambukmu ya rasul….””
Mendengar perkataan Ukasyah makin banyak sahabat yang geram, tapi rasul tetap tenang dan Rasul mengambil cambuknya untuk diberikan kepada Ukasyah.

Tapi Ukyasah berkata lagi. Tidak cukup ya Rasul, dulu waktu aku kena cambuk kamu aku tidak berpakaian. Jadi aku minta engkau ya Rasul untuk melepaskan baju kamu untuk aq cambuk punggung kamu.

Mendengar itu para sahabat makin aja geram dan heboh. Tapi rasul tetap meredam kemarahan para sahabat lainnya. Dan Rasul segera juga melepaskan bajunya hingga terlihat dada Rasul yang tidak ada lagi kain yang menutupi badan Rasul. Kemudian Rasul memerintahkan kepada Ukasyah untuk mencambuknya.

Ukasyah segera semakin mendekati rasul dan bersiap-siap mengangkat cambuk. Tapi tiba-tiba cambuk yang di pegang Ukasyah lepas. Dan Ukasyah segera menubruk dan memeluk Rasulllah S.a.w. sambil menangis tersedu-sedu. Ukasyah berkata kepada Rasul : Ya Rasul tidak mungkin aku menyakiti engkau ya Rasul, engkau adalah orang yang paling aku cintai ya Rasul. Sebenarnya Aku hanya ingin memeluk dada dan punggung Kamu ya Rasul, sebelum nanti engkau meninggalkan aku untuk yang terakhir kali. Dan aku ingin nanti di akherat kelak bisa bisa bersama-sama kamu nanti ya Rasul di akherat kelak.

Dan Rasul pun juga berdoa : Doamu Insya Allah di kabulkan oleh Allah ya Ukasyah”.

Inilah kehebatan kepemimpinan Nabi Muhammad kepada Umatnya. Ini kisah nyata yang mungkin tidak pernah di ungkap oleh banyak orang. Tapi beginilah Rasul mendidik para sahabat-sahabatnya. Rasul memenangkan Hati Para Sahabat, sehingga parade Sahabat akan mengikuti dan memberikan Badannya untuk berbakti dan taat kepada Rasul. Mungkin disinilah kita perlu banyak berkata bahwa setiap kita adalah pemimpin dan menangkan hati orang-orang yang kita pimpin bukan hanya badannya. Sekian semoga menjadi renungan kita semua.

#Kisah Inspirasi Buat semua Calon Pemimpin
( Red : Satrio W )
RASULULLAH, SOSOK SEDERHANA DAN BERSAHAJA

RASULULLAH, SOSOK SEDERHANA DAN BERSAHAJA

6/29/2016 Add Comment
Rasulullah ﷺ adalah sosok yang lengkap. Bukan hanya dari sisi akhlak dan karakternya, tapi juga dari sisi perjalanan hidupnya. Beliau pernah mengalami kemiskinan. Tapi kekayaan juga pernah beliau rasakan. Beliau miskin dengan keridhaan dan kaya dengan rasa syukur. Beliau tidak pernah bersedih dengan dunia yang hilang darinya. Dan beliau tidak berbangga dengan belimpahnya dunia.
Beliau pernah mendermakan kambing sepenuh lembah. Ya, beliau memiliki kambing sepenuh lembah, kemudian beliau berikan hanya kepada satu orang. Di lain hari, di rumahnya tak ada sesuatu untuk dimakan. Beliau zuhud, sederhana, dan bersahaja.
Apa Hakikat Dunia?
Rasulullah ﷺ adalah seorang pendidik yang baik. Beliau akrab dengan para sahabatnya dan sering memberi pemahaman kepada mereka dengan menggunakan media. Suatu hari, beliau ﷺ hendak mengajarkan kepada para sahabatnya –dan tentu juga kepada kita- tentang nilai dunia di sisi Allah ﷻ. Beliau berikan perumpamaan dengan media sebuah bangkai kambing yang cacat.
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah ﷺ penah melewati pasar bersama para sahabatnya. Kemudian beliau melihat ada bangkai kambing yang kecil kupingnya (cacat). Beliau kepit telinga kambing itu dengan jarinya dan bersabda,
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ
“Siapa yang mau membelinya seharga satu dirham?”
“Kami sama sekali tidak tertarik. Apa yang bisa diperbuat dengannya?” kata para sahabat menjawab tawaran beliau ﷺ.
أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ
“Mau tidak kalau ini jadi milik kalian?” Rasulullah menawarkannya dengan cuma-cuma.
“Demi Allah, seandainya kambing itu hidup, ia pun cacat. Apalagi sekarang dia sudah mati”, para sahabat tetap enggan memilikinya.
فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Allah, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada pendapat kalian tentang anak kambing ini.” (HR. Muslim, 2957 dan Ahmad, 14402).
Inilah arti dunia di sisi Allah ﷻ, dan juga bagi Rasulullah ﷺ. Kemudian para sahabatnya pun menjadi sosok yang menaruh dunia hanya di tangan mereka, tidak masuk ke dalam hati mereka.
Kumpulkan Untukku di Akhirat
Dari Khaitsamah, dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Jika engkau mau, akan kami berikan perbendaharaan dunia dan kunci-kuncinya, sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu, dan seorang pun setelahmu. Kami tidak akan mengurangi jatahmu di sisi Allah”. Beliau ﷺ menjawab, “Kumpulkan itu semua untukku di akhirat”.
Kemudian Allah ﷻ menurunkan ayat,
تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا
“Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana.” (QS:Al-Furqaan | Ayat: 10).
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha,
تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِىٍّ بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
“Ketika Rasulullah ﷺ wafat, baju besi beliau tergadaikan pada orang Yahudi sebagai jaminan untuk 30 sha’ gandum (yang beliau beli secara tidak tunai).” (HR. Bukhari no. 2916) (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, 6/95).
Kisah Dari Bahrain
Rasulullah ﷺ mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarah ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari wilayah tersebut. Saat itu, Rasulullah telah mengikat perjanjian damai dengan wilayah kepulauan Teluk itu. Dan mengangkat al-Ala’ bin al-Hadhrami sebagai walinya. Abu Ubaidah kembali ke Madinah dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah, lalu mereka mengerjakan shalat subuh bersama Rasulullah ﷺ
Seusai shalat, Rasulullah beranjak. Kemudian orang-orang mendekati beliau. Melihat hal itu Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda,
“أَظُنُّكُمْ قَدْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدْ جَاءَ بِشَيْءٍ” فقالوا: أجل يا رسول الله. قال: “فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللَّهِ لاَ الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ”.
“Aku kira kalian mengetahui Abu Ubaidah datang membawa sesuatu”. “Benar wahai Rasulullah”, jawab mereka.
Kemudian Beliau ﷺ bersabda, “Bergembiralah dan harapkanlah memperoleh sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian. Namun yang aku takutkan adalah ketika dunia dibentangkannya pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Maka kalian akan berlomba-lomba sebagaimana mereka dulu telah berlomba-lomba (untuk mendapatkannya). Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka dulu telah binasa.” (HR. al-Bukhari 3791 dan Muslim 2961).
Ketika Rasulullah ﷺ takut kalau peluang-peluang menggapai harta dunia begitu mudah kita raih, beliau takut kita terpedaya, kemudian membuat rugi akhirat kita, bersamaan dengan itu, betapa takutnya kita dengan kemiskinan. Ketakutan yang membuat sebagian dari kita menempuh cara-cara haram untuk mendapatkan kekayaan.
Salah seorang salaf mengatakan, “Seandainya manusia takut masuk neraka sebagaimana mereka takut miskin, pasti dia akan masuk surga.”
Ummul mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan,
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا ، حَتَّى قُبِضَ
“Tidak pernah keluarga Muhammad ﷺ kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR. Bukhari 5416, Muslim 7633 dan yang lainnya).
Aisyah radhiallahu ‘anha juga menuturkan,
إِنْ كُنَّا آلَ مُحَمَّدٍ نَمكُثُ شَهْرًا مَا نَسْتَوْقِدُ بِنَارٍ ، إِنْ هُوَ إِلا التَّمْرُ وَالْمَاءُ
“Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak memasak apapun) kecuali kurma dan air.” (HR. Muslim 2972 dan at-Tirmidzi 2471).
Beliau adalah kekasih Allah ﷻ, seandainya kekayaan jadi ukuran kemuliaan, tentu beliau ﷺ adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan kekayaan.
Tidak Pernah Menikmati Roti Sampai Kenyang Hingga Ajalnya
Kesederhanaan Rasulullah ﷺ dan bersahajanya kehidupan beliau, bukan berarti mengajak seluruh umat Islam hidup miskin. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil tentang sikap bersyukur dan qonaah (cukup). Tentang memaknai hidup, bahwa kehidupan adalah kehidupan akhirat. Tentang tidak sibuk dengan dunia hingga wafat tidak membawa amal, bekal kehidupan yang sesungguhnya. Tentang keluh kesah kita, padahal banyak yang harus kita syukuri dari apa yang kita enyam dan rasa. Karena kekasih Allah ﷻ pun tidak semewah kita. Tentang, tentang, dan tentang lainnya…
ن أبي هريرة رضي الله عنه أنه كان يشير بإصبعه مرارًا يقول: والذي نفس أبي هريرة بيده، ما شبع نبي الله صلى الله عليه وسلم وأهله ثلاثة أيام تباعًا من خبز حنطة حتى فارق الدنيا.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkali-kali mengarahkan jarinya ke mulutnya, sembari mengatakan, “Rasulullah ﷺ dan keluarganya tidak pernah merasa kenyang dalam tiga hari berturut-turut karena memakan roti gandum. (Keadaan tersebut terus berlangsung) Hingga beliau berpisah dengan dunia”. (HR. Muslim 2976 dan Ibnu Majah 3343).
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : اَنَّهُ مَرَّ بِقَوْمٍ بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ شاَةٌ مَصْلِيَةٌ َدَعَوْهُ فَاَبَى اَنْ يَأْكُلُ قاَلَ : خَرَجَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الدُّنْياَ وَلَمْ يَشْبَعْ مِنَ الْخُبْزِ الشَّعِيْرِ.
Juga dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, suatu hari beliau melewati orang-orang yang sedang menikmati daging kambing yang dipanggang. Mereka mengundang Abu Hurairah, tetapi dia tidak mau memakannya. Abu Hurairah berkata, “Sampai dengan saat wafatnya Rasulullah ﷺ Tidak pernah kenyang oleh roti yang terbuat dari gandum”. (HR. al-Bukhari 5098).
Membaca hadits ini, rasanya kita hendak menangis. Rasulullah ﷺ yang kita cintai hingga demikian perjalanan hidupnya. Sementara kita, tak terhitung berapa kali merasa kekenyangan yang menyesakkan celana. Hingga makanan terbuang sia-sia. Hanya kepada Allah ﷻ kita memohon ampun.
Gurat Tikar Di Pipi
Umar berkisah tentang kebersamaannya dengan Rasulullah ﷺ, “Aku pernah berkunjung menemui Rasulullah ﷺ. Waktu itu beliau berada dalam sebuah kamar, tidur di atas tikar yang tidak beralas. Di bawah kepalanya ada bantal dari kulit kambing yang diisi dengan sabut. Pada kedua kakinya daun penyamak terkumpul. Di atas kepalanya, kulit kambing tergantung. Aku melihat guratan anyam tikar di sisi perutnya, maka aku pun menangis.”
Beliau mengatakan, “Apa yang menyebabkanmu menangis (ya Umar)?” “Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar dalam keaadan mereka (selalu di dalam kesenangan, kemewahan, dan serba cukup), padahal engkau adalah utusan Allah.” Jawab Umar. Umar hendak menyatakan, Anda lebih layak menikmati isi dunia dibanding raja-raja itu karena Anda adalah utusan Allah. Rasulullah menjawab,
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الآخِرَةُ
“Apakah engkau tidak senang, bahwa dunia ini bagi mereka dan akhirat untuk kita?” (HR. al-Bukhari 4629 dan Muslim 1479).
Penutup
Rasulullah ﷺ pernah merasakan kekayaan, saat itu beliau berderma. Kedermawanannya bagaikan debu yang tertiup angin. Dan beliau mencintai kesederhanaan. Beliau merasa cukup dalam segala keadaan. Allah ﷻ kumpulkan keadaan tersebut pada diri beliau ﷺ agar semakin sempurna keteladanan yang beliau miliki.
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *