Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Renungan Pemimpin: Rindu Pemimpin Yang Memenangkan Hati Kami Bukan Hanya Badan Kami

Renungan Pemimpin: Rindu Pemimpin Yang Memenangkan Hati Kami Bukan Hanya Badan Kami

6/29/2016 Add Comment


Assalamu'alaikum Sobatku IPM dan pembaca semua.
Kamu semua adalah pemimpin, Semua akan ditanya tentang kepemimpinan kita dahulu di dunia.
Tapi taukah kamu sobat, pemimpin bukanlah orang yang paling kuat seperti zaman jahiliyah dahulu.
Setelah islam datang, Islam mengatur itu semua. Semua lini Kehidupan.
Dibawah ini saya tuturkan kisah Rasulullah yang begitu Mulia.

Di kisahkan di hari-hari akhir Rasullah S.A.W mendekati meninggal dunia. Rasullah mengumpulkan banyak sahabat-sahabat dalam suatu majlis melingkar.
Rasul Muhammad s.a.w berkata : Wahai semua sahabatku sebelum aku nanti meninggalkan dunia, dan aku hari ini sebagai pemimpinmu maka aku kumpulkan kalian untuk satu hal, yaitu bahwa jika ada di antara kalian yang pernah aku sakiti silakan kalian meng-qhisasku(membalasku) dengan yang setimpal yang dulu pernah di lakukan”.

Para sahabat banyak tertunduk dan beberapa ada yang menangis mendengar perkataan rasul tadi. Karena memahami bahwa mungkin sebentar lagi Rasul yang di cintainya sebentar lagi sudah tidak akan bersama lagi.

Sampai tiga kali Rasul berkata : Silakan siapa yang mau meng-qhisas diriku?

Di tengah keheningan dan kesedihan para sahabat. Ada satu sahabat yang angkat bicara yaitu seorang sahabat nabi bernama Ukyasah. “Saya ya Rasul…. Saya akan meng-qhisas Anda ya Rasullah”…

Sahabat yang lain Umar bin Kkatab berkata langsung berdiri dan marah. Umar : Apa yang akan kamu lakukan buat baginda nabi ya Ukyasah. Jika kamu menyakiti Rasul akan aku penggal kepala kamu”.

Baginda Rasul yang agung berkata : “Biarkan Ukayah ya … Umar!!!”.

Sahabat yang lain Abu Bakar pun sama segera maju dan berkata : “ Wahai Ukyasah, Abu Bakar dan keluarganya yang akan menebusnya ya Ukasyah “.

Rasullah Muhammad juga masih melarang dengan lembut kemarahan Umar dan Abu Bakar. Rasul tahu para sahabat banyak yang menahan amarah. Tapi rasul tetap bersikap tenang dan mempersilahkan Ukasyah untuk bicara.

Kemudian Ukasyah menceritakan kejadiannya : “Pada saat aku mengiringi engkau berperang cambukmu pernah mengenai punggungku ya Rasul..untuk itu kali ini aku ingin mencambukmu ya rasul….””
Mendengar perkataan Ukasyah makin banyak sahabat yang geram, tapi rasul tetap tenang dan Rasul mengambil cambuknya untuk diberikan kepada Ukasyah.

Tapi Ukyasah berkata lagi. Tidak cukup ya Rasul, dulu waktu aku kena cambuk kamu aku tidak berpakaian. Jadi aku minta engkau ya Rasul untuk melepaskan baju kamu untuk aq cambuk punggung kamu.

Mendengar itu para sahabat makin aja geram dan heboh. Tapi rasul tetap meredam kemarahan para sahabat lainnya. Dan Rasul segera juga melepaskan bajunya hingga terlihat dada Rasul yang tidak ada lagi kain yang menutupi badan Rasul. Kemudian Rasul memerintahkan kepada Ukasyah untuk mencambuknya.

Ukasyah segera semakin mendekati rasul dan bersiap-siap mengangkat cambuk. Tapi tiba-tiba cambuk yang di pegang Ukasyah lepas. Dan Ukasyah segera menubruk dan memeluk Rasulllah S.a.w. sambil menangis tersedu-sedu. Ukasyah berkata kepada Rasul : Ya Rasul tidak mungkin aku menyakiti engkau ya Rasul, engkau adalah orang yang paling aku cintai ya Rasul. Sebenarnya Aku hanya ingin memeluk dada dan punggung Kamu ya Rasul, sebelum nanti engkau meninggalkan aku untuk yang terakhir kali. Dan aku ingin nanti di akherat kelak bisa bisa bersama-sama kamu nanti ya Rasul di akherat kelak.

Dan Rasul pun juga berdoa : Doamu Insya Allah di kabulkan oleh Allah ya Ukasyah”.

Inilah kehebatan kepemimpinan Nabi Muhammad kepada Umatnya. Ini kisah nyata yang mungkin tidak pernah di ungkap oleh banyak orang. Tapi beginilah Rasul mendidik para sahabat-sahabatnya. Rasul memenangkan Hati Para Sahabat, sehingga parade Sahabat akan mengikuti dan memberikan Badannya untuk berbakti dan taat kepada Rasul. Mungkin disinilah kita perlu banyak berkata bahwa setiap kita adalah pemimpin dan menangkan hati orang-orang yang kita pimpin bukan hanya badannya. Sekian semoga menjadi renungan kita semua.

#Kisah Inspirasi Buat semua Calon Pemimpin
( Red : Satrio W )
RASULULLAH, SOSOK SEDERHANA DAN BERSAHAJA

RASULULLAH, SOSOK SEDERHANA DAN BERSAHAJA

6/29/2016 Add Comment
Rasulullah ﷺ adalah sosok yang lengkap. Bukan hanya dari sisi akhlak dan karakternya, tapi juga dari sisi perjalanan hidupnya. Beliau pernah mengalami kemiskinan. Tapi kekayaan juga pernah beliau rasakan. Beliau miskin dengan keridhaan dan kaya dengan rasa syukur. Beliau tidak pernah bersedih dengan dunia yang hilang darinya. Dan beliau tidak berbangga dengan belimpahnya dunia.
Beliau pernah mendermakan kambing sepenuh lembah. Ya, beliau memiliki kambing sepenuh lembah, kemudian beliau berikan hanya kepada satu orang. Di lain hari, di rumahnya tak ada sesuatu untuk dimakan. Beliau zuhud, sederhana, dan bersahaja.
Apa Hakikat Dunia?
Rasulullah ﷺ adalah seorang pendidik yang baik. Beliau akrab dengan para sahabatnya dan sering memberi pemahaman kepada mereka dengan menggunakan media. Suatu hari, beliau ﷺ hendak mengajarkan kepada para sahabatnya –dan tentu juga kepada kita- tentang nilai dunia di sisi Allah ﷻ. Beliau berikan perumpamaan dengan media sebuah bangkai kambing yang cacat.
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah ﷺ penah melewati pasar bersama para sahabatnya. Kemudian beliau melihat ada bangkai kambing yang kecil kupingnya (cacat). Beliau kepit telinga kambing itu dengan jarinya dan bersabda,
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ
“Siapa yang mau membelinya seharga satu dirham?”
“Kami sama sekali tidak tertarik. Apa yang bisa diperbuat dengannya?” kata para sahabat menjawab tawaran beliau ﷺ.
أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ
“Mau tidak kalau ini jadi milik kalian?” Rasulullah menawarkannya dengan cuma-cuma.
“Demi Allah, seandainya kambing itu hidup, ia pun cacat. Apalagi sekarang dia sudah mati”, para sahabat tetap enggan memilikinya.
فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Allah, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada pendapat kalian tentang anak kambing ini.” (HR. Muslim, 2957 dan Ahmad, 14402).
Inilah arti dunia di sisi Allah ﷻ, dan juga bagi Rasulullah ﷺ. Kemudian para sahabatnya pun menjadi sosok yang menaruh dunia hanya di tangan mereka, tidak masuk ke dalam hati mereka.
Kumpulkan Untukku di Akhirat
Dari Khaitsamah, dikatakan kepada Nabi ﷺ, “Jika engkau mau, akan kami berikan perbendaharaan dunia dan kunci-kuncinya, sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu, dan seorang pun setelahmu. Kami tidak akan mengurangi jatahmu di sisi Allah”. Beliau ﷺ menjawab, “Kumpulkan itu semua untukku di akhirat”.
Kemudian Allah ﷻ menurunkan ayat,
تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا
“Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu istana-istana.” (QS:Al-Furqaan | Ayat: 10).
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha,
تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِىٍّ بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ
“Ketika Rasulullah ﷺ wafat, baju besi beliau tergadaikan pada orang Yahudi sebagai jaminan untuk 30 sha’ gandum (yang beliau beli secara tidak tunai).” (HR. Bukhari no. 2916) (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, 6/95).
Kisah Dari Bahrain
Rasulullah ﷺ mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarah ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari wilayah tersebut. Saat itu, Rasulullah telah mengikat perjanjian damai dengan wilayah kepulauan Teluk itu. Dan mengangkat al-Ala’ bin al-Hadhrami sebagai walinya. Abu Ubaidah kembali ke Madinah dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah, lalu mereka mengerjakan shalat subuh bersama Rasulullah ﷺ
Seusai shalat, Rasulullah beranjak. Kemudian orang-orang mendekati beliau. Melihat hal itu Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda,
“أَظُنُّكُمْ قَدْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدْ جَاءَ بِشَيْءٍ” فقالوا: أجل يا رسول الله. قال: “فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللَّهِ لاَ الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنْ أَخَشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ”.
“Aku kira kalian mengetahui Abu Ubaidah datang membawa sesuatu”. “Benar wahai Rasulullah”, jawab mereka.
Kemudian Beliau ﷺ bersabda, “Bergembiralah dan harapkanlah memperoleh sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian. Namun yang aku takutkan adalah ketika dunia dibentangkannya pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Maka kalian akan berlomba-lomba sebagaimana mereka dulu telah berlomba-lomba (untuk mendapatkannya). Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka dulu telah binasa.” (HR. al-Bukhari 3791 dan Muslim 2961).
Ketika Rasulullah ﷺ takut kalau peluang-peluang menggapai harta dunia begitu mudah kita raih, beliau takut kita terpedaya, kemudian membuat rugi akhirat kita, bersamaan dengan itu, betapa takutnya kita dengan kemiskinan. Ketakutan yang membuat sebagian dari kita menempuh cara-cara haram untuk mendapatkan kekayaan.
Salah seorang salaf mengatakan, “Seandainya manusia takut masuk neraka sebagaimana mereka takut miskin, pasti dia akan masuk surga.”
Ummul mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan,
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا ، حَتَّى قُبِضَ
“Tidak pernah keluarga Muhammad ﷺ kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR. Bukhari 5416, Muslim 7633 dan yang lainnya).
Aisyah radhiallahu ‘anha juga menuturkan,
إِنْ كُنَّا آلَ مُحَمَّدٍ نَمكُثُ شَهْرًا مَا نَسْتَوْقِدُ بِنَارٍ ، إِنْ هُوَ إِلا التَّمْرُ وَالْمَاءُ
“Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak memasak apapun) kecuali kurma dan air.” (HR. Muslim 2972 dan at-Tirmidzi 2471).
Beliau adalah kekasih Allah ﷻ, seandainya kekayaan jadi ukuran kemuliaan, tentu beliau ﷺ adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan kekayaan.
Tidak Pernah Menikmati Roti Sampai Kenyang Hingga Ajalnya
Kesederhanaan Rasulullah ﷺ dan bersahajanya kehidupan beliau, bukan berarti mengajak seluruh umat Islam hidup miskin. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil tentang sikap bersyukur dan qonaah (cukup). Tentang memaknai hidup, bahwa kehidupan adalah kehidupan akhirat. Tentang tidak sibuk dengan dunia hingga wafat tidak membawa amal, bekal kehidupan yang sesungguhnya. Tentang keluh kesah kita, padahal banyak yang harus kita syukuri dari apa yang kita enyam dan rasa. Karena kekasih Allah ﷻ pun tidak semewah kita. Tentang, tentang, dan tentang lainnya…
ن أبي هريرة رضي الله عنه أنه كان يشير بإصبعه مرارًا يقول: والذي نفس أبي هريرة بيده، ما شبع نبي الله صلى الله عليه وسلم وأهله ثلاثة أيام تباعًا من خبز حنطة حتى فارق الدنيا.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkali-kali mengarahkan jarinya ke mulutnya, sembari mengatakan, “Rasulullah ﷺ dan keluarganya tidak pernah merasa kenyang dalam tiga hari berturut-turut karena memakan roti gandum. (Keadaan tersebut terus berlangsung) Hingga beliau berpisah dengan dunia”. (HR. Muslim 2976 dan Ibnu Majah 3343).
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : اَنَّهُ مَرَّ بِقَوْمٍ بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ شاَةٌ مَصْلِيَةٌ َدَعَوْهُ فَاَبَى اَنْ يَأْكُلُ قاَلَ : خَرَجَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الدُّنْياَ وَلَمْ يَشْبَعْ مِنَ الْخُبْزِ الشَّعِيْرِ.
Juga dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, suatu hari beliau melewati orang-orang yang sedang menikmati daging kambing yang dipanggang. Mereka mengundang Abu Hurairah, tetapi dia tidak mau memakannya. Abu Hurairah berkata, “Sampai dengan saat wafatnya Rasulullah ﷺ Tidak pernah kenyang oleh roti yang terbuat dari gandum”. (HR. al-Bukhari 5098).
Membaca hadits ini, rasanya kita hendak menangis. Rasulullah ﷺ yang kita cintai hingga demikian perjalanan hidupnya. Sementara kita, tak terhitung berapa kali merasa kekenyangan yang menyesakkan celana. Hingga makanan terbuang sia-sia. Hanya kepada Allah ﷻ kita memohon ampun.
Gurat Tikar Di Pipi
Umar berkisah tentang kebersamaannya dengan Rasulullah ﷺ, “Aku pernah berkunjung menemui Rasulullah ﷺ. Waktu itu beliau berada dalam sebuah kamar, tidur di atas tikar yang tidak beralas. Di bawah kepalanya ada bantal dari kulit kambing yang diisi dengan sabut. Pada kedua kakinya daun penyamak terkumpul. Di atas kepalanya, kulit kambing tergantung. Aku melihat guratan anyam tikar di sisi perutnya, maka aku pun menangis.”
Beliau mengatakan, “Apa yang menyebabkanmu menangis (ya Umar)?” “Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar dalam keaadan mereka (selalu di dalam kesenangan, kemewahan, dan serba cukup), padahal engkau adalah utusan Allah.” Jawab Umar. Umar hendak menyatakan, Anda lebih layak menikmati isi dunia dibanding raja-raja itu karena Anda adalah utusan Allah. Rasulullah menjawab,
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الآخِرَةُ
“Apakah engkau tidak senang, bahwa dunia ini bagi mereka dan akhirat untuk kita?” (HR. al-Bukhari 4629 dan Muslim 1479).
Penutup
Rasulullah ﷺ pernah merasakan kekayaan, saat itu beliau berderma. Kedermawanannya bagaikan debu yang tertiup angin. Dan beliau mencintai kesederhanaan. Beliau merasa cukup dalam segala keadaan. Allah ﷻ kumpulkan keadaan tersebut pada diri beliau ﷺ agar semakin sempurna keteladanan yang beliau miliki.
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Akhlaq adalah parameter kegiatan

Akhlaq adalah parameter kegiatan

5/31/2016 Add Comment

Kutipan Pengarahan Pimpinan Pondok, KH. Anang Rikza Masyhadi, MA pada Acara Kamisan Guru-guru Pondok Modern Tazakka
10 Maret 2016
=========================
1. Saya ingin tekankan beberapa hal. Simaklah ayat berikut ini:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُون
Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu… (Qs. At-Taubah [9]: 105)
Perhatikan ayat ini, perintahnya adalah: bekerjalah. Nanti hasil pekerjaanmu akan diperhatikan oleh: Allah, Rasul dan orang-orang beriman. Pekerjaan baikmu akan diperhatikan oleh Allah, itu artinya adalah pahala dan surga. Pekerjaan baikmu akan diperhatikan oleh Rasul, itu artinya adalah syafaat pada hari kiamat. Sedangkan jika pekerjaanmu diperhatikan orang-orang beriman itu artinya apresiasi.

Ayat ini adalah ayat yang menyatakan kerja dahulu, berusaha dahulu, berprestasi dahulu, maka di akhir baru kalian akan mendapatkan. Memberi dahulu baru mendapatkan. Bersedekah dahulu baru Allah akan mengkayakanmu. Give dulu baru get. Jangan terbalik! Mau memberi tetapi menunggu mendapatkan dulu; mau bersedekah tetapi menunggu kaya dulu; mau berbuat berkarya tetapi menunggu apresiasi dulu. Yang seperti ini keliru besar!

Seperti halnya, syukuri dahulu nikmat yang ada, maka kamu akan mendapatkan kebahagiaan, bukan nunggu kebahagiaan dahulu baru mau bersyukur.

Jadi, itulah framework kita; give give give; memberi, memberi dan memberi. Allah selalu melihat dan orang akan menilai. Ini ayat tentang kerja, jadi kalau kita kerja dan berbuat maka Allah akan memberikan ‘jalanya’ dan Rasul dengan ‘syafaatnya’ dan orang-orang beriman akan menjadi saksi.

2. Kita ini mengelola lembaga pendidikan yang mendidik karakter. Karakter itu akhlak. Aklak itu sikap. Maka, berbagai kegiatan santri di pondok ini orientasinya adalah membangun akhlak. Parameternya adalah akhlak.
Ujian, misalnya, kelulusannya parameternya adalah akhlak, bukan akademik saja. Maka, kalau ada yang menyontek dia tidak lulus, karena dari sisi akhlak tidak lulus. Pramuka parameternya juga akhlak.

Mendidik anak-anak kelas V di OPPM, itu juga ukurannya akhlak. Bagian Penerimaan Tamu, bukan sekedar menyajikan hidangan dan melayani tamu, tetapi akhlaknya bagaimana; akhlak menerima tamu, akhlak tentang tanggungjawab, tugas dan keikhlasan.
Anak-anak OPPM Bagian Penerangan, yang salah satu tugasnya adalah menyiapkan seluruh kebutuhan soundsistem di pondok ini; di masjid, di aula dan acara-acara lain, itu pendidikan akhlak. Melatih tanggungjawab, melatih komitmen, disiplin dan kerja perfect.
Jadi, apapun kegiatannya, akhlak menjadi parameternya.
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
“Sesungguhnya aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”

3. Ada ungkapan teori sosial bahwa manusia adalah binatang yang dapat berbicara:
الإنسان حيوان ناطق
Karena hanya manusia-lah yang dapat mengeksplorasi keinginannya.
Tetapi, sebetulnya lebih dari itu seperti yang sering disampaikan Kiai Hasan A Sahal, Pengasuh Pondok Modern Gontor:
الإنسان حيوان مسؤول
Manusia adalah binatang yang bertanggungjawab
Selain manusia, makhluk lain tidak ada yang dimintai pertanggungjawaban. Jadi, kemanusiaan kita terletak pada tanggungjawab kita.
إنسانيتك في مسؤوليتك
Kalau manusia sudah hilang rasa tanggungjawabnya, berarti dia seperti binatang, bahkan lebih rendah dari hewan tersebut.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ…
Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (merasakan); punya mata tetapi tidak bisa melihat; punya telinga tetapi tidak bisa mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.” (Qs. Al-Araf [7]: 179)
Punya mata tidak bisa melihat bukan berarti buta karena fisik (medis); punya telingan tapi tidak bisa mendengar bukan pula tuli karena sakit fisik (medis). Dengan kata lain, punya hati tidak bisa memahami / merasakan, punya mata tdk bisa melihat, punya telinga tidak bisa mendengar, itu artinya tidak bertanggungjawab.

Tanggungjawab itu akan melahirkan kepercayaan, dan dalam kepercayaan itulah terletak harkat dan martabat manusia. Kalau ada orang yang sudah tidak dipercaya lagi sama siapa-siap itu manusia yang tidak lagi memiliki martabat.
Maka, jangan sia-siakan kepercayaan. Jangan kecewa, jangan mengecewakan apalagi mengajak orang lain kecewa. Kalau sikapmu seperti itu, maka kamu benar-benar menjadi manusia yang mengecewakan.

Ditranskrip oleh:
Sekpim, Subhi Mahmassani, S.H.I

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *